Kak Andy

Kamis, 20 Agustus 2009

Mukhtarol Hadis



Perkataan yang paling di sukai Allah ada empat(4) yaitu: Subhanallah { Maha suci Allah } Alhamdulillah { segala puji Milik Allah } Lailahaillallah { tidak ada Tuhan kecuali Allah} Allah hu Akbar { Allah Maha Besar}. Tidak mengapa { boleh } dengan yang mana saja kamu mulai
(Hr. Ahmad)

Hadis tersebut mudah-mudahan sebagai rujukan kita sebagai muslim, untuk menjaga perkataan nya karena Lidah itu tak bertulang . Kadang Saya Ironis pada Orang tua atau siapa saja yang apabila marah mengeluarkan kata-kata yang tidak selayak nya. Kata-kata adalah Do'a Wahai Saudara ku. maka Jagalah Lidah mu. Keluarkan Yang Positif .
Keep IstiQomaH.

Rabu, 12 Agustus 2009

TUKAR KADO



Saling beri hadiahlah kalian maka kalian akan saling menyayangi


Dalam hadits di atas Rasulullah menjelaskan akan pentingnya saling berbagi, dalam hal ini saling memberi hadiah yang merupakan bagian dari kebiasaan Rasulullah, untuk menumbuhkan saling perhatian dan kasih sayang antara sahabat dan Rasulullah.
Alhamdulillah walaupun meski Cuma satu kali dalam satu tahun pengajian Bina Fitrah mengadakan acara tukar kado yang menjadi bagian dari acara rintihan atau perpisahan sementara menjelang bulan suci Ramadhan, yakni liburnya kegiatan belajar mengajar pengajian selama beberapa hari masuknya bulan tersebut, karena pada bulan Ramadhan kegiatan belajar mengajar tetap aktif walau hanya dua Minggu selama bulan itu, dan waktunya setelah Shalat Subuh.


Tukar kado dalam pengajian Bina fitrah bukan sesuatu yang mewah, nilainya pun kurang dan lebih sedikit dari Rp. 10.000 dari dengan hal itu sebenarnya setiap santri diajarkan untuk ikhlas dalam memberi, karena kado tersebut akan kembali lagi dalam bentuk yang lain, mungkin lebih besar dan bernilai , atau bahkan lebih murah dari kado kita , namun dengan mengutamakan Ikhlas hal tersebut tertutupi dengan keikhlasan dalam berbagi dan memberi. Wallahu a’lam.

KAJIAN BULUGHUL MARAM

Dari Ali ra. Berkata bersabda Rasulullah saw. (Berwitirlah kalian, sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan menyukai yang witir /ganjil), HR yg lima dan mensahkannya Ibnu Khuzaimah.,
Hadits tersebut adalah merupakan bagian dari bab Shalat-shalat Sunnah dalam kitab Bulughul Maram ada bagian yang terakhir, dalam beberapa hadits yang lain Rasulullah banyak menekankan pada pelaksanaan ibadah yang satu ini, bahkan bila kita kwartir Subuh akan segera datang maka kita dianjurkan untuk melaksanakan meski hanya satu rakaat, dan pada hadits yang lain juga shalat ini termasuk shalat yang paling panjang bentang waktunya, yakni dari setelah shalat Isya sampai waktu menjelang Subuh, adapun penekanannya ialah bila kita kwartir tidak dapat bangun karena suatu hala maka laksanakan menjelang kita tidur.


Sebagaimana namanya Witir yakni ganjil, maka Shalat ini mempunyai rakaat yang ganjil yakni dari 11 rakaat, 9 rakaat, 7 rakaat, 5 rakaat, 3 rakaat dan 1 rakaat, namun sebagain ulama hanya memperbolehkan yang satu rakaat hanya untuk pelaksanaan yang menjelang waktu Subuh bila kita kwartir Subuh akan segera tiba.


Dari penekanan dengan beberapa haditsnya, maka mayoritas ulama berpendapat shalat witir ini hukumnya ialah sunnah Muakkadah atau sunnah yang mendekati wajib, bahkan sebagian ulama menyatakan akan kewajibannya shalat ini,.


Dari sedikit uraian diatas kembali kepada kita , sudahkah kita istiqamah dalam menjalankan shalat ini, atau paling tidak pernah melaksanakan, nah !.. di bulan Ramadhan ini kita dilatih melaksanakannya, yaitu pada tiga rakaat yang terakhir dari shalat Tarawih kita.

Selasa, 30 Juni 2009

nasehat dengan contoh


Rasulullah adalah figur pendakwah yang sempurna . beliau apabila menyampaikan suatu nasihat perkataan nya sanyat di lembut, mudah di mengerti.

Bila ia memberi nasihat kepada seseorang yang belum tinggi keilmuan nya maka dia menjelaskan secara mendetail dan dipahami oleh seorang yang bertanya. dialah sang pemberi nasihat tetapi

yang lebih dahulu mengerjakan nya .

Orang yang menyampaikan Nasihat maka perkataan nya itu harus di sertai apa yang ia lakukan . Secara psikologis orang akan lebih mendengarkan seseorang yang memberi nasihat yang disertai denagn perbuatannya . itu akan lebih membekas ketimbang orang yang besar mulut .

Orang mukmin Seperti satu jasad mukmin satu dengan mukmin lain saling memberi nasihat atas dasar kasih sayang.

Orang mukmin yang baik adalah bila mukmin lain terperosok kedalam lubang neraka maka wujud dari persaudaraan nya adalah memberikan nasihat. Dalam menyampaikan dakwah Hak baik Prinsipnya, Sabar adalah Strateginya . Niatlah karna Allah - prinsip haknya - Sabar adalah Strateginya .

Rabu, 24 Juni 2009

Terjemah al-Imran 144



144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[234]. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.


Ayat di atas turun berkenaan dengan kabar meninggalnya Rasulullah dalam perang Uhud, kabar inilah yang sempat menggoncangkan, mental dan pertahanan kaum Muslimin dalam perang tersebut, untunglah diantara para sahabat utama segera memberikan klarifikasi akan kebohongan kabar yang disebarkan kaum kafir Quraisy dengan tujuan meruntuhkan nyali pasukan Rasulullah yang hanya berjumlah sekitar 700 orang menghadapi pasukan Quraisy dengan persenjataan dan logistik yang cukup dan jumlah personel 3000 orang, dan ayat ini juga yang pernah dibacakan Abu Bakar kepada Umar tatkala Umar tidak percaya bahwa Rasulullah telah wafat.


Lalu bagaimana dengan fenomina masa kini ? tentu kita meyakini akan kebenaran ayat ini , dengan penjelasan yang bersifat tersurat dan tersirat , bahwa seorang nabi pilihan Allah saja terluka (seperti pada perang Uhud) bahkan bisa terbunuh, di era yang serba canggih ini ternyata masih banyak orang yang bersusah payah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat bahkan agama, untuk mendapat apa yang kita kenal sebagai Ilmu Kanuragan, yang bentuknya seperti kebal peluru, senjata tajam , bisa menghilang dll, yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah , para sahabat, tabi’en dan tabiet tabien sebagai generasi yang terbaik kata Rasulullah, konon katanya nenek moyang kita banyak yang memiliki bermacam ilmu kanuragan dan kesaktian, bahkan bisa menghancurkan gunung dengan sekali pukul. Tak ada penelitian ilmiah yang dilakukan untuk mengetahui kebenaran hal tersebut, tapi yang jelas di mana mereka tatkala kita di jajah oleh Portugis, Belanda dan Jepang hingga memakan waktu 350 tahun, ada yang mengatakan “Ilmu tersebut merupakan bagian dari ajaran Islam, karena mantera yang dilapalkan berupa ayat suci al-Qur,an, Naudzu billah., kalau itu memang benar dan baik, kenapa Rasulullah dan para sahabat tidak belajar , agar selalu menang dalam setiap peperangan, kenapa Rasulullah tidak mengajari para sahabat dan pamannya agar bisa kebal terhadap bidikan panah, hujaman tombak dan tikaman serta sabetan pedang, kenyataannya , paman Rasulullah sendiri , yang di kenal sebagai Singa padang Pasir Shahid di Uhud
Ayat tersebut juga terhubung dengan kata kembali ke belakang atau murtad, begitulah kepercayaan orang orang Munafiq mada masa itu, mereka beranggapan sebagai seorang nabi pilihan tidak mungkin Rasulullah wafat, lain lagi dengan model masa kini, betapa banyak orang yang belajar kanuragan, mereka murtad namun tidak merasa, hal ini terjadi karena bersyaratan-persyaratan untuk dapat memiliki ilmu tersebut, sangat jelas menjerumuskan seseorang kepada kemusyrikan, mulai dari puasa yang teak pernah di contohkan oleh Rasulullah sampai kepada menjadikan al-Qur,an sebagai jimat.
Kembali kita gunakan logika yang sehat, kalau dengan ilmunya orang jaman dahulu bisa terbang, toh hanya sendirian saja (terbangnya) tapi jaman sekarang kita bisa terbang dengan membawa banyak teman, bahkan sambil baca koran (naik pesawat),
jika jaman dahulu dengan ilmunya para leluhur kita bisa menghancurkan gunung dengan sekali pukul menggunakan kepalan tangan, maka jaman sekarang kita bisa menghancurkan gunung dengan menekankan cukup satu jari pada sebuah tombol.
jika jaman dahulu dengan ilmunya para leluhur kita bisa mengangkat batu dan balok besar dengan dua lengan, maka jaman sekarang cukup menggunakan satu lengan untuk menarik hendel derek maka beban ratusan bahkan ribuan to, yang berkali lipat dari batu dan balok dapat terangkat dengan mudah, sifat syaratnya sama namun efek hukum syareatnya berbeda, dan hasilnya jauh lebih efektik, ingin tahu syarat menjadi berilmu melebihi ilmu kanuragan para leluhur.


1. Mereka puasa mutih, puasa wisha dan puasa yang tidak ada tuntunannnya, kita puasa Sunnah terutama yaumul abyad untuk menjernihkan akal agar dapat menerima ilmu dari para guru.


2. Mereka menjauhi wanita bahkan tidak menikah, kita jangan mudah tergoda dengan lawan jenis agar dapat belajar dengan fokus dan konsentrasi penuh.


3. Mereka tidak tidur untuk mendapat wangsit, kita mengurangi sedikit waktu tidur untuk belajar.


4. Mereka membaca mantera untuk merapalkan ilmunya , kita membaca doa untuk mendapat kemudahan dari Allah dalam menyerap ilmu.
Wallahu a’lam bissawab

Jumat, 19 Juni 2009

ADAB MENYEMBELIH HEWAN



Sesungguhnya Allah ta’ala mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu, maka apabila kamu membunuh, perbaikilah cara membunuh itu, dan apabila kamu memotong, maka perbaikilah cara memotongnya , hendaklah kamu tajamkan pisaunya, dan buatlah senang hewan potongannya .
Keterangan dalam segi nahwu
Warna merah adalah kata kerja atau fiil.
INNA adalah huruf Taukid yang biasa memasuki jumlah fikliyah, ALLAHA adalah Mubtada yang menjadi Nasab lantaran terkena hukum INNA. KATABA adalah khabar ghairu Mufrad yg berupa fiil dan fail, AL-IHSAN adalah Masdar dari kalimat ahsana dan maf’ulbih dari lafadz KATABA, FA adalah jawab dari lafadz IDZA , QATHALTUM adalah gabungan dari lafazd QATALA dan ANTUM, atau fiil dan fail , fa ahsinu adalah fiil amar dengan bentuk jama’ QITLATHA adalah maf’ulbih dari ahsinu.
Inilah uraian ringkas praktek pelajaran Nahwu dan Sharraf, adapun uraian penjelasan dari dari hadits tersebut, intinya adalah adab memperlakukan hewan, baik yang akan dibunuh karena mengganggu atau berbahaya maupun akan dipotong untuk di makan dagingnya
Dalam hadits tersebut Allah mewajibkan kita untuk mempunyai sifat welas asih meskipun terhadap hewan yang berbahaya sekalipun, yakni jangan menyiksa, bila kita ingin membunuh maka bunuhlah dengan cara yang cepat dan mematikan, dalam sebuah hadits kita dilarang menyiksa beinatang dengan membakar dan juga pada hadits yang lainnya menyiksa dengan memultilasi terlebih dahulu sebelum membunuhnya, dan bila kita ingin memotongnya, tajamkan pisau untuk mempercedpat kematiannya. Dan ada hal penting dalam masalah memotong yaitu potonglah pada bagian leher hingga memutuskan urat tenggorokannya, tarikan nafas dari hewan yang terpotong akan menarik semua darah di seluruh bagian tubuhnya dan akan tertarik ke jantung lalu di hembuskan ke arah yang terpotong, dengan demikian sebagian besar darah tersembur ke luar, dan hal ini berimbas pada segarnya mutu daging karena tidak terlalu banyak mengandung darah, dan bukankah darah itu merupakan bagian dari sumber penyakit, itulah sebabnya Islam mengharamkan darah, terkecuali yang menempel pada daging dan tak dapat dibuang, karena melekat., lalu gembirakan hewan yang akan di potong dalam arti kata pisahkan hewan yang menunggu untuk di potong dengan yang sedang di potong, bukankah membiarkan hewan menunggu untuk dipotong dalam keadaan melihat kawannya dipotong juga merupakan siksaan secara psikologis, biarkan hewan memberontak sepuasnya pada saat akhir ajalnya, dengan cara jangan di ikat. Wallahu a’lam bissawab

Jumat, 05 Juni 2009

PRAKTEK NAHWU LANJUTAN

(Jika kalian mampu memperbanyak dari istighfar, maka lakukanlah, maka sesungguhnya tiada yang lebih menyelamatkan di sisi Allah, dan tiada yang lebih di cintai oleh Allah selain dari pada istighfar )
1. IN adalah huruf syarat , juga sebagai huruf zaman
2. ISTHATA’TUM adalah fiil dan fail yang berasal dari ISTHATA’ dan ANTUM
3. 3.AN THAKTSIRU merupakan fiil yang telah di tarkip maf’ul dengan adanya AN sebagai huruf masdhar, jadi i’rafnya adalah mahal nasab, dengan mengira-ngirakan YA . adapun lafadz TAKTSIRU berasal dari TAKTSIRUNA (menggunakan NUN) namun NUN dibuang lantaran kemasukan amil nasab yaitu AN
4. MINAL ISTIGHFAR adalah jar majrur atau kata keterangan, adapun kalimat ISTIGHFAR adalah akar kata atua masdhar dari madhi ISTAGHFARA.
5. FAF’ALU , FA adalah huruf jawab syarat dari IN , dan IF’ALU adalah amar dalam bentuk jama’ dengan tanda jama’ WAWU.
Inilah sedikit urian pelajaran praktek nahwu dan sharraf untuk tingkat remaja di BINA FITRAH.
Hadits tersebut diambil dari kitab Mukhtarul hadits , bila kita simak hadits diatas tentulah kita faham bahwa kita dianjurkan untuk senantiasa memperbanyak istighfar , agar dosa-dosa yang menghalangi kedekatan kita dengan Allah dapat terhapus minimal menjadi sedikit, bukankah dosa itu ibarat dinding, yang semakin banyak dosa kita semakin tebal dinding itu, maka semakin jauh kita dari Allah.
Rasul sendiri mencontohkan Kpd kita , beliau sehari dalam sebuah haditsnya 70 kali dalam satu hari beristighfar, padahal kita tahu , beliau maksum (terbebas dari dosa) bahkan dosa-dosanya yang lalu yang akan datang bila memang ada telah Allah ampuni dan beliau mendapat jaminan surga. Lalu bagaimana dengan kita ? rasul bersabda “
(setiap anak Adam pasti pernah berdosa, dan sebaik baik orang yang berdosa adalah yang segera bertaubat al-Hadits)
Namun istighfar bukanlah hanya sekedar ucapan lisan semata tanpa berakar ke hati, melainkan suatu ucapan yang tulus , sebagai pengakuan seorang yang berdosa kepada Raabnya.
Dalam bab Taubat syekh Imam Nawawi dalam kitab RIYADUSH SHALIHIN membawakan sebuah hadits yang intinya rasa senang Allah terhadap orang yang bertaubat, dalam kata lain istighfar, seperti seorang yang Shafar atau bepergian di padang pasir yang tandus dan kering , lalu ia karena lelahnya beristirahat, dengan bekal makanan dan minuman masih tergantung dipunggung untanya, dan pada saat ia terlelap ,unta tersebut lari meninggalkan tuannya, bayangkan bagaimana perasaan musafir tadi setelah bangun, perut lapar, tenggorokan dahaga di bawah terik matahari yang menyengat. Dan pada saat kritis dan kebingungan tiba-tiba unta kembali dengan bekal utuh,tidak terbayang kegembiraan musafir tersebut, namun ternyata Allah lebih senang dari itu, karena hambanya yang kembali bersimpuh dengan ketulusan mohon anpun dari dosa-dosanya. (wallahu a’lam bissawab)

Sabtu, 30 Mei 2009

PEMBAWA SIAL


(Jika terjadi kesialan, maka pada rumah, pada istri dan kendaraan HR Bukhari Muslim)

Penjelasan kalimat

(IN) Harfu syarthin menjazemkan pada fiil, disebut juga harf zaman / penunjuk masa

(KANA) fiil syarat namun tak dapat dijazemkan karena fiil madhi (KANA adalah fiil dengan karakter khusus) maka hukum jazemnya dalam perkiraan saja,

(ASSYU’MU) Isim dari KANA dan rafa’nya jelas dengan Dhommah sebagai Isim MUFRAD, adapun kalimat SYU’MU adalam Masdar/akar kata dari fiil madhi SYAAMA.

(FA) sebagai jawab dari IN

(FID DARI) jar majrur dengan kasrah sebagai Mufrad, dan dalam urutan kalam, sebagai Khabar dari KANA , yang berupa khabar Ghairu Mufrad, maka hukum Nasabnya hanya dalam kira kiranya.

(WAL MAR ATI –WAL FARASI) adalam athaf dari FID DARI dengan kedudukan antonim sebagai Maktuf ‘alaihi. Adapun lafad . AD-DARUN—AL MAR ATU dan AL-FARASU dapat digolongkan sebagai Isim Jumud, yakni tidak berasal dari tasyrifan.

URAIAN HADITS (dinukil dari kitab Muhktarul hadits)

Matan atau isi hadits tersebut di atas bukan berarti bermakna tahayyul , karena dilihat dari perawinya (Bukhari Muslim), rasanya kita kenal 2 orang syek hadits ini. Maka tentunya tergantung bagaimana kita memaknai hadits tersebut.

RUMAH SIAL, secara logika ini masuk di akal bila sistem atau rancang bangun rumah kita tidak sebagaimana mestinya yang dianjurkan para arsitek yang profesional , yang tidak hanya menitik beratkan pada keindahan eksterior ,interior dan kokohnya sebuah bangunan serta tata letak tiap ruangan, tapi juga pada sirkulasi udara dan sinar matahari yang cukup agar penghuninya merasa nyaman dan sehat. Adapun dalam kaca mata agama sebuah rumah yang didalamnya tidak teralun bacaan ayat suci al-Qur,an dari lisan penghuninya (bukan televisi atau vcd dan radio) apalagi tak pernah ditegakkan shalat di dalamnya, tentunya akan menjadi rumah yang nyaman setan berkembang biak. Nah tentunya kita tahu dalam hal ini, setan yang terbuat dari api akan membuat suasana rumah sumpek walau luas, hawa panas, dan selanjutnya penghuninya cenderung mudah tersinggung dan emosional, pernahkan anda terjebak macet di terik matahari bagaimana tingkat emosional anda ?

PASANGAN SIAL . dalam sebuah buku disebutkan untuk membentuk anak yang shaleh bukan ketika anak itu telah lahir, tapi jauh ketika mencari calon ibunya, dan kesalahan kita dalam memaknai sebuah cinta. Kesialan terjadi manakala arti cinta , yaitu yang saling melengkapi , saling memahami dan menyatukan 2 sifat yang berbeda dengan saling pengertian, sudah diabaikan dan masing masing mulai mempertahankan egonya.

KENDARAAN SIAL. Pernahkah anda ketika sedang sakit, atau sedang santai lalu lewat sebuah kendaraan dengan suara bising , bahkan knalpot berasap tebal anda hendak marah tapi kendaraan tersebut sudah jauh berlalu, ketidak berdayaan anda adalah indikasi, bahwai anda ada pada posisi teraniaya, lalu tidak mustahil keluar sumpah serapah, kutukan dan caki maki, bagaimana kalu yang teraniaya teramat banyak , atau paling tidak banyak yang merasa terganggu dengan hal tersebut, lalu keluarlah kata-kata kutukan, yang diaminkan oleh Allah. Atau memang kendaraan itu sendiri yang tak layak pakai, dari kondisi body dan mesin yang sudah harus masuk bengkel atau malah harus sudah ditimbang saja di tukang besi tua.

Dalam surat at-thaghabun 64 ayat 11 Allah berfirman.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Namun ayat tersebut tidak menafikan adalah hukum kausalita atau sebab akibat, bukankah sebab akibat juga merupakan sunnatullah, saat anda melepaskan batu dari tangan anda beberapa centi diatas tanah diatas kaki anda, jangan sekali kali anda mengatakan “kalau Allah tidak mengijinkan ,batu ini tidak akan jatuh kekaki saya melainkan akan melayang dan jatuh ditempat jauh. Karena secara Sunnatullah batu itu dengan gaya beratnya akan jatuh lurus karena gravitasi bumi di bawah kaki anda. (wallahu a’lam bissawab)

Selasa, 26 Mei 2009

PRAKTEK NAHWU/SHARRAF



pada pelajaran kali ini pengajian mengambil sebuah hadits yang menjadi bahan praktek dari sebuah hadits yang terdapat pada kitab Musttalahul hadits dengan artinya kurang lebih "

(sesungguhnya diantara dosa-dosa ada dosa yang tidak dapat dihapus dengan shalat, tidak juga puasa, tidak juga haji dan tidak juga umrah, namun yang bisa menghapusnya ialah kesulitan dalam mencari penghidupan)


untuk posting kali ini tdk dibahas mengenai mofradhot kalimahnya, baik dari segi nahwu maupun sharafnya (karena telah dijelaskan secara rinci dalam taklim pelajaran tersebut), namun akan sedikit kita bahas mengenai maksud hadits tersebut secara ringkas, "

dalam hadits diatas Allah menjelaskan kepada kita ada beberapa alternatif yang bisa dijadikan sebagai cafer/penutup dari dosa kita , yaitu shalat, puasa, haji dan umrah, namun adakalanya pelaksanaan ibadah tadi kurang begitu dijiwai pelaksanaannya atau dalam istilah lain tidak fokus, atau khusu, maka Allah menjadikan alternatif lain sebagai penghapus dosa kita, yaitu" dengan sulitnya mencari nafkah untuk menutupi keperluan hidupnya, tentunya dengan catatan pencarian nafkah tadi dilakukan secara halal.

Dalam hadits yang lain dikatakan satu dirham yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka Allah akan menghitungnya sebagai infaq, bahkan orang yang meninggal karena suatu hal dalam rangka mencari rizki yang halal Allah golongkan sebagai orang yang mati syahid, tentunya walau tidak setinggi derajat syahid orang yang gugur dalam perang demi membela agama Islam. (wallahu a'lam bissawab)

Kamis, 07 Mei 2009

SHALAT LIMA WAKTU



Dalam mengertian syar'e " shalat ialah ucapan/doa dan gerakan yang dimulai dengan
Takbir dan diakhiri dengan salam.

Namun shalat tidak bermakna sesederhana itu, karena shalat adalah bagian yang vital dalam pelaksanaan ajaran Islam
bahkan menjadi sendi utama dalam amal, dan merupakan barometer amal yang lain, bila tidak maka pelaksanaan shalat
tak lebih dari sekedar gugur kewajiban.


Sebagaimana telah kita fahami bersama "shalat ialah bagian dari rukun Islam, bila kita sedikit kritis memahami kata

RUKUN (berarti wajib, mesti, harus) dan sesuatu yang bernama rukun berarti sistimatika pelaksanaannya
haruslah berurutan seperti rukun wudhu, rukun shalat, "maka pahamlah kita bahwa shalat sebagaimana yang rasulullah
terangkan dalam rukun Islam sebagai tiang dalam sebuah bangunan rumah , yang dimulai dengan pondasi Syahadat

sebagai aqidah, shalat sebagai tiang, puasa sebagai dinding, zakat sebagai fentilasi dan haji sebagai atap.

Dalam sebuah ayat Allah jelaskan diantara manfaat shalat, "yaitu dapat mencegah dari keji dan munkar , keji mermakna
perkataan dan munkar bermakna perbuatan, dua hal itulah yang mesi ditutupi dengan pelajaran shalat yang dimulai dengan
takbir yang bermakna mengagungkan Allah dalam bentuk baiknya tingkah laku kita, sebagai implementasi hamba yang tunduk
pasrah (yg disimbolkan dgn mengangkat 2 tangan) dan diakhiri dengan salam kekanan dan kekiri merupakan anjuran tersirat "bahwa
kita harus mampu menebarkan kesejahteraan, keselamatan bagi sesama.. (bersambung)


UNTAIAN KATA MUTIARA.


1.,Jika anda konsisiten denga visi dakwah anda,
ratusan bahkan mungkin ribuan tahun yang akan datang visi dakwah anda akan tecapai
, anda tinggal menikmatinya di kehidupan kelak.
2.Modal yang diperlukan untuk mencapai sesuatukemajuan adalah :
. keberanian
. pengetahuan
. sedangkan kekuatan untuk mempertahankannya, adalh kejujuran dan kometmen
. lalu inovasi dan kesabaran (Maimunah

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA



Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).