Kak Andy

Selasa, 30 Juni 2009

nasehat dengan contoh


Rasulullah adalah figur pendakwah yang sempurna . beliau apabila menyampaikan suatu nasihat perkataan nya sanyat di lembut, mudah di mengerti.

Bila ia memberi nasihat kepada seseorang yang belum tinggi keilmuan nya maka dia menjelaskan secara mendetail dan dipahami oleh seorang yang bertanya. dialah sang pemberi nasihat tetapi

yang lebih dahulu mengerjakan nya .

Orang yang menyampaikan Nasihat maka perkataan nya itu harus di sertai apa yang ia lakukan . Secara psikologis orang akan lebih mendengarkan seseorang yang memberi nasihat yang disertai denagn perbuatannya . itu akan lebih membekas ketimbang orang yang besar mulut .

Orang mukmin Seperti satu jasad mukmin satu dengan mukmin lain saling memberi nasihat atas dasar kasih sayang.

Orang mukmin yang baik adalah bila mukmin lain terperosok kedalam lubang neraka maka wujud dari persaudaraan nya adalah memberikan nasihat. Dalam menyampaikan dakwah Hak baik Prinsipnya, Sabar adalah Strateginya . Niatlah karna Allah - prinsip haknya - Sabar adalah Strateginya .

Rabu, 24 Juni 2009

Terjemah al-Imran 144



144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[234]. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.


Ayat di atas turun berkenaan dengan kabar meninggalnya Rasulullah dalam perang Uhud, kabar inilah yang sempat menggoncangkan, mental dan pertahanan kaum Muslimin dalam perang tersebut, untunglah diantara para sahabat utama segera memberikan klarifikasi akan kebohongan kabar yang disebarkan kaum kafir Quraisy dengan tujuan meruntuhkan nyali pasukan Rasulullah yang hanya berjumlah sekitar 700 orang menghadapi pasukan Quraisy dengan persenjataan dan logistik yang cukup dan jumlah personel 3000 orang, dan ayat ini juga yang pernah dibacakan Abu Bakar kepada Umar tatkala Umar tidak percaya bahwa Rasulullah telah wafat.


Lalu bagaimana dengan fenomina masa kini ? tentu kita meyakini akan kebenaran ayat ini , dengan penjelasan yang bersifat tersurat dan tersirat , bahwa seorang nabi pilihan Allah saja terluka (seperti pada perang Uhud) bahkan bisa terbunuh, di era yang serba canggih ini ternyata masih banyak orang yang bersusah payah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat bahkan agama, untuk mendapat apa yang kita kenal sebagai Ilmu Kanuragan, yang bentuknya seperti kebal peluru, senjata tajam , bisa menghilang dll, yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah , para sahabat, tabi’en dan tabiet tabien sebagai generasi yang terbaik kata Rasulullah, konon katanya nenek moyang kita banyak yang memiliki bermacam ilmu kanuragan dan kesaktian, bahkan bisa menghancurkan gunung dengan sekali pukul. Tak ada penelitian ilmiah yang dilakukan untuk mengetahui kebenaran hal tersebut, tapi yang jelas di mana mereka tatkala kita di jajah oleh Portugis, Belanda dan Jepang hingga memakan waktu 350 tahun, ada yang mengatakan “Ilmu tersebut merupakan bagian dari ajaran Islam, karena mantera yang dilapalkan berupa ayat suci al-Qur,an, Naudzu billah., kalau itu memang benar dan baik, kenapa Rasulullah dan para sahabat tidak belajar , agar selalu menang dalam setiap peperangan, kenapa Rasulullah tidak mengajari para sahabat dan pamannya agar bisa kebal terhadap bidikan panah, hujaman tombak dan tikaman serta sabetan pedang, kenyataannya , paman Rasulullah sendiri , yang di kenal sebagai Singa padang Pasir Shahid di Uhud
Ayat tersebut juga terhubung dengan kata kembali ke belakang atau murtad, begitulah kepercayaan orang orang Munafiq mada masa itu, mereka beranggapan sebagai seorang nabi pilihan tidak mungkin Rasulullah wafat, lain lagi dengan model masa kini, betapa banyak orang yang belajar kanuragan, mereka murtad namun tidak merasa, hal ini terjadi karena bersyaratan-persyaratan untuk dapat memiliki ilmu tersebut, sangat jelas menjerumuskan seseorang kepada kemusyrikan, mulai dari puasa yang teak pernah di contohkan oleh Rasulullah sampai kepada menjadikan al-Qur,an sebagai jimat.
Kembali kita gunakan logika yang sehat, kalau dengan ilmunya orang jaman dahulu bisa terbang, toh hanya sendirian saja (terbangnya) tapi jaman sekarang kita bisa terbang dengan membawa banyak teman, bahkan sambil baca koran (naik pesawat),
jika jaman dahulu dengan ilmunya para leluhur kita bisa menghancurkan gunung dengan sekali pukul menggunakan kepalan tangan, maka jaman sekarang kita bisa menghancurkan gunung dengan menekankan cukup satu jari pada sebuah tombol.
jika jaman dahulu dengan ilmunya para leluhur kita bisa mengangkat batu dan balok besar dengan dua lengan, maka jaman sekarang cukup menggunakan satu lengan untuk menarik hendel derek maka beban ratusan bahkan ribuan to, yang berkali lipat dari batu dan balok dapat terangkat dengan mudah, sifat syaratnya sama namun efek hukum syareatnya berbeda, dan hasilnya jauh lebih efektik, ingin tahu syarat menjadi berilmu melebihi ilmu kanuragan para leluhur.


1. Mereka puasa mutih, puasa wisha dan puasa yang tidak ada tuntunannnya, kita puasa Sunnah terutama yaumul abyad untuk menjernihkan akal agar dapat menerima ilmu dari para guru.


2. Mereka menjauhi wanita bahkan tidak menikah, kita jangan mudah tergoda dengan lawan jenis agar dapat belajar dengan fokus dan konsentrasi penuh.


3. Mereka tidak tidur untuk mendapat wangsit, kita mengurangi sedikit waktu tidur untuk belajar.


4. Mereka membaca mantera untuk merapalkan ilmunya , kita membaca doa untuk mendapat kemudahan dari Allah dalam menyerap ilmu.
Wallahu a’lam bissawab

Jumat, 19 Juni 2009

ADAB MENYEMBELIH HEWAN



Sesungguhnya Allah ta’ala mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu, maka apabila kamu membunuh, perbaikilah cara membunuh itu, dan apabila kamu memotong, maka perbaikilah cara memotongnya , hendaklah kamu tajamkan pisaunya, dan buatlah senang hewan potongannya .
Keterangan dalam segi nahwu
Warna merah adalah kata kerja atau fiil.
INNA adalah huruf Taukid yang biasa memasuki jumlah fikliyah, ALLAHA adalah Mubtada yang menjadi Nasab lantaran terkena hukum INNA. KATABA adalah khabar ghairu Mufrad yg berupa fiil dan fail, AL-IHSAN adalah Masdar dari kalimat ahsana dan maf’ulbih dari lafadz KATABA, FA adalah jawab dari lafadz IDZA , QATHALTUM adalah gabungan dari lafazd QATALA dan ANTUM, atau fiil dan fail , fa ahsinu adalah fiil amar dengan bentuk jama’ QITLATHA adalah maf’ulbih dari ahsinu.
Inilah uraian ringkas praktek pelajaran Nahwu dan Sharraf, adapun uraian penjelasan dari dari hadits tersebut, intinya adalah adab memperlakukan hewan, baik yang akan dibunuh karena mengganggu atau berbahaya maupun akan dipotong untuk di makan dagingnya
Dalam hadits tersebut Allah mewajibkan kita untuk mempunyai sifat welas asih meskipun terhadap hewan yang berbahaya sekalipun, yakni jangan menyiksa, bila kita ingin membunuh maka bunuhlah dengan cara yang cepat dan mematikan, dalam sebuah hadits kita dilarang menyiksa beinatang dengan membakar dan juga pada hadits yang lainnya menyiksa dengan memultilasi terlebih dahulu sebelum membunuhnya, dan bila kita ingin memotongnya, tajamkan pisau untuk mempercedpat kematiannya. Dan ada hal penting dalam masalah memotong yaitu potonglah pada bagian leher hingga memutuskan urat tenggorokannya, tarikan nafas dari hewan yang terpotong akan menarik semua darah di seluruh bagian tubuhnya dan akan tertarik ke jantung lalu di hembuskan ke arah yang terpotong, dengan demikian sebagian besar darah tersembur ke luar, dan hal ini berimbas pada segarnya mutu daging karena tidak terlalu banyak mengandung darah, dan bukankah darah itu merupakan bagian dari sumber penyakit, itulah sebabnya Islam mengharamkan darah, terkecuali yang menempel pada daging dan tak dapat dibuang, karena melekat., lalu gembirakan hewan yang akan di potong dalam arti kata pisahkan hewan yang menunggu untuk di potong dengan yang sedang di potong, bukankah membiarkan hewan menunggu untuk dipotong dalam keadaan melihat kawannya dipotong juga merupakan siksaan secara psikologis, biarkan hewan memberontak sepuasnya pada saat akhir ajalnya, dengan cara jangan di ikat. Wallahu a’lam bissawab

Jumat, 05 Juni 2009

PRAKTEK NAHWU LANJUTAN

(Jika kalian mampu memperbanyak dari istighfar, maka lakukanlah, maka sesungguhnya tiada yang lebih menyelamatkan di sisi Allah, dan tiada yang lebih di cintai oleh Allah selain dari pada istighfar )
1. IN adalah huruf syarat , juga sebagai huruf zaman
2. ISTHATA’TUM adalah fiil dan fail yang berasal dari ISTHATA’ dan ANTUM
3. 3.AN THAKTSIRU merupakan fiil yang telah di tarkip maf’ul dengan adanya AN sebagai huruf masdhar, jadi i’rafnya adalah mahal nasab, dengan mengira-ngirakan YA . adapun lafadz TAKTSIRU berasal dari TAKTSIRUNA (menggunakan NUN) namun NUN dibuang lantaran kemasukan amil nasab yaitu AN
4. MINAL ISTIGHFAR adalah jar majrur atau kata keterangan, adapun kalimat ISTIGHFAR adalah akar kata atua masdhar dari madhi ISTAGHFARA.
5. FAF’ALU , FA adalah huruf jawab syarat dari IN , dan IF’ALU adalah amar dalam bentuk jama’ dengan tanda jama’ WAWU.
Inilah sedikit urian pelajaran praktek nahwu dan sharraf untuk tingkat remaja di BINA FITRAH.
Hadits tersebut diambil dari kitab Mukhtarul hadits , bila kita simak hadits diatas tentulah kita faham bahwa kita dianjurkan untuk senantiasa memperbanyak istighfar , agar dosa-dosa yang menghalangi kedekatan kita dengan Allah dapat terhapus minimal menjadi sedikit, bukankah dosa itu ibarat dinding, yang semakin banyak dosa kita semakin tebal dinding itu, maka semakin jauh kita dari Allah.
Rasul sendiri mencontohkan Kpd kita , beliau sehari dalam sebuah haditsnya 70 kali dalam satu hari beristighfar, padahal kita tahu , beliau maksum (terbebas dari dosa) bahkan dosa-dosanya yang lalu yang akan datang bila memang ada telah Allah ampuni dan beliau mendapat jaminan surga. Lalu bagaimana dengan kita ? rasul bersabda “
(setiap anak Adam pasti pernah berdosa, dan sebaik baik orang yang berdosa adalah yang segera bertaubat al-Hadits)
Namun istighfar bukanlah hanya sekedar ucapan lisan semata tanpa berakar ke hati, melainkan suatu ucapan yang tulus , sebagai pengakuan seorang yang berdosa kepada Raabnya.
Dalam bab Taubat syekh Imam Nawawi dalam kitab RIYADUSH SHALIHIN membawakan sebuah hadits yang intinya rasa senang Allah terhadap orang yang bertaubat, dalam kata lain istighfar, seperti seorang yang Shafar atau bepergian di padang pasir yang tandus dan kering , lalu ia karena lelahnya beristirahat, dengan bekal makanan dan minuman masih tergantung dipunggung untanya, dan pada saat ia terlelap ,unta tersebut lari meninggalkan tuannya, bayangkan bagaimana perasaan musafir tadi setelah bangun, perut lapar, tenggorokan dahaga di bawah terik matahari yang menyengat. Dan pada saat kritis dan kebingungan tiba-tiba unta kembali dengan bekal utuh,tidak terbayang kegembiraan musafir tersebut, namun ternyata Allah lebih senang dari itu, karena hambanya yang kembali bersimpuh dengan ketulusan mohon anpun dari dosa-dosanya. (wallahu a’lam bissawab)