Kamis, 17 Juli 2014

Istilah Aqidah

Sahabat sekalian ..dalam Din kita ada banyak sekali ungkapan, baik dalam bentuk kata tunggal maupun majemuk, bahkan plural atau jama’, dan  sering kali kata/kalimat ungkapan tersebut membingungkan kita.

Sekedar sharing berikut ini saya uraikan tentang makna ‘AQIDAH , di mana kata tersebut sering kita ucapkan berkaitan dengan kepercayaan kita.

AQIDAH, yang secara maknawi bermakna , yang dipercaya, atau yang mengikat, sebenarnya adalah kata sifat, dengan akar kata AQAD maknanya “Ikatan.
Kata/kalimat yang berasal dari “AQAD ini ada enam tempat dalam al-Qur,an dengan 
makna yang berdekatan, yakni

Perjanjian (QS 2;235)

Ikatan (QS 2;237)

Sumpah setia (QS 4 ;33)

Perjanjian (QS 5 ;89)

Ikatan (QS 20 ;27)

Tali ikatan ( QS 113 ; 4)

Maka kesimpulannya , Aqidah ialah ikatan , janji setia, sumpah atau tali ikatan , itu secara lughawi atau terminologi bahasa Arab.

Namun ketika kata atau kalimat “Aqidah, ini di majemukkan atau disandari oleh kalimat Islam, menjadi Aqidah Islam, maka maknanya secara bahasa “ialah ikatan Islam , adapun secara Istilah menjadi, Janji setia atau sumpah yang mengikat antara kita dengan Allah yang bernama Islam.

Jadi, Aqidah sebenarnya adalah ikatan atau tali penghubung antara kita dengan Allah, Aqidah sering juga di sebut dengan ‘Iman, maka ketika ada orang yang berkata , “Kuat aqidahnya, artinya “Kuat imannya, ketika rusak Aqidah kita maka sama artinya rusak hubungan kita dengan Allah.

Dan ketika Aqidah kita rusak,baik karena kita beralih kepada Ikatan yang lain, (yang tentunya lain pula namanya, yakni bukan lagi ‘Islam) atau kita tidak ber Aqidah/Ateis maka amaliyah kita menjadi sia-sia (QS 6 :88)

Adapun Islam ialah nama dari Aqidah tersebut

Maka jangan sekali-kali kita mencari tali penghubung dengan Allah selain ‘Aqidah Islam, karena hal demikian akan menjatuhkan kita ke dalam ke sia-siaan, atau kerugian (QS 3;55)

Sekian..

silahkan bila ada diantara sahabat ada yang ingin menyempurnakan atau melengkapi artikel ini, tentunya dengan rujukan yang shaheh.

Artikel ini dapat anda rujuk pada kitab “AL-‘QAID   Sayyid sabiq bab Aqidah & Syare’at.




Selasa, 15 Juli 2014

Memahami sebuah ungkapan

Sebagaimana yang  kita pahami, bahasa Indonesia merupakan bahasa campuran yang terdiri dari beberapa bahasa , di antaranya Melayu, Arab , Belanda, Sanskerta dll.

Banyak ungkapan atau istilah dari bahasa tersebut yang kita pakai baik untuk obrolan ringan sehari-hari, seminar, presentasi  membuat  artikel dll.

Namun yang patut kita ketahui ketika kita menggunakan sesuatu ungkapan untuk hal yang urgen, maka merupakan  keniscayaan ungkapan atau kata tersebut kita kembalikan dari mana kata/ungkapan tersebut berasal.

Contohnya kata “Iman,  yang telah baku menjadi kosa-kata bahasa Indonesia , maka sebagai konsekuensinya , kata tersebut bisa di pakai oleh agama apa saja, begitu juga kata “Kafir. Padahal Iman mempunyai difinisi yang jelas dalam sebuah hadits “TASDIQUN BIL QALBI WA QAULUN BILLISAN QA ‘AMALUN BIL ARKAN (Membenarkan di hati , diucapkan di lidah dan diamalkan dengan anggota badan), lalu apa yang dibenarkan ? tentulah ini tentang Tauhid, atau meng- Esakan Allah yang jelas  bertentangan dengan kepercayaan agama lain.

Begitu pun dengan kata “Kafir, di samping kata kafir mempunyai beberapa makna , di antaranya menutupi, mengingkari, juga punya ta’rif secara syar’e.

Dengan ini marilah kita gunakan ungkapan secara Arif dan proporsional.


Sabtu, 15 Juni 2013

Memahami suatu hadits secara adil.



Al-jannatu tahta dzilalis-shuyufi (surga di bawah naungan pedang al-hadits/ Bab sabar/ruyadush shalihin)

Ketika kita membaca hadits di atas , pasti kesan yang timbul ialah , Islam agama yang mengajarkan kekerasan, maka tidak heran  bila hadits ini menjadi senjata para orientalis untuk melecehkan agama kita.

Lalu dhaifkah hadits tersebut ?, dari segi rawi hadits tersebut diriwayatkan oleh 2 syeh ahli hadits yakni, Bukhari & Muslim, dari segi matan maupun sanad, hadits tersebut tidak diragukan seshahehannya.

Lalu di manakah letak kesalahannya, ?

letaknya ialah kepada cara kita memahaminya, yakni “tidak adil, jelasnya ke tidak- adilan kita dalam memahami sebuah hadits, sehingga membuahkan interpretasi  yang salah.
Lalu apa solusinya ?

Pahamilah sebuah hadits secara utuh. tidak salah belajar hadis hanya dari buku terjemah, namun saat kita sudah menjadikan suatu hadits sebagai materi atau bagian dari materi dakwah, maka mutlak keutuhan hadits tersebut wajib kita ketahui.

Tidak harus mengerti bahasa Arab, atau mampu membaca huruf gundul, apalagi sekarang sudah banyak kitab-kitab syarah hadits yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yang diperlukan hanya ke arifan kita untuk belajar lebih giat, setidaknya kita mengetahui Asbabul wurud suatu hadits.

Sebagai contoh adalah hadits di atas yang lengkapnya ialah “

Dari Abu Ibrahim, yaitu Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu 'anhuma bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم pada suatu hari di waktu beliau itu bertemu dengan musuh, beliau menantikan sehingga matahari condong - hendak terbenam - beliau lalu berdiri di muka orang banyak kemudian bersabda:

"Hai sekalian manusia, janganlah engkau semua mengharap-harapkan bertemu musuh dan mohonlah kepada Allah akan keselamatan. Tetapi jikalau engkau semua menemui musuh itu, maka bersabarlah. Ketahuilah olehmu semua bahwasanya syurga itu ada di bawah naungan pedang."
Selanjutnya Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda:
"Ya Allah yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan,
Yang menghancur-leburkan gabungan pasukan musuh. Hancur leburkanlah mereka itu dan berilah kita semua kemenangan atas mereka." (Muttafaq 'alaih)


Dengan mamahami suatu hadits secara utuh (tidak sepotong-sepotong) akan jelas maksud yang sesungguhnya.

Rabu, 22 Mei 2013

Murid yang di cintai


التلميذ المحبوب
كان بعض الاساتذة يحبّ أحد تلامذته. أكثر من زملائه, فتعجّبوا من ذلك. و قالوا : لاي شئ يحبّ أستاذنا هذالتلميذ أكثر منّا ؟ فأراد الاستاذ أنّ يظهر لهم السبب فى ذلك , فأعطى كلّ واحد منهم دجاجة, وقال : لينفرد كلّ واحد منكم في مكان, وليذبخ الجاجة حيث يراه أحد. فامتثل التلامذ أمر الاستاذ , الا ذلك التلميذ الواحد, فانه ردّ الدجاجة. فقال له أستاذه : مالك كم تذبخ دجاجتك, كما ذبخ أصحابك ؟ فقال : لانّ لم أقدر أن أنفرد فى مكان, لا يرانى فيه أحد, فانّ الله يرانى فى مكان موضع. فقال  الاساتذة للتلاميذ : أنظر الى هذالتلميذ : يخاف الله, ولا ينساه فى أى مكان , فلهذا أحببته أكثر منكم, ولا شكّ أنه اذا كبر يكون من الصالحين . المطيعين لربّهم فى كلّ حين
Murid yang dicintai

Terjadi sebahagian ustad sangat menyayangi seorang muridnya. Lebih sayang dari dari teman-temannya. Maka heran temannya karena hal tersebut. Dan mereka bertanya, karena sesuatu apakah guru kita menyayangi murid ini lebih sayang dari kita ?

Maka ustad ingin menjelaskan alasannya yang menjadi sebab itu, lalu ia memberi setiap orang dari mereka ayam. Dan berkata “ hendaklah masing-masing kalian menyendiri di suatu tempat  dan menyembelih agar agar tidak terlihat oleh seorang pun, semua murid pun mematuhi perintah guru itu, kecuali murid yang itu saja, ia mengembalikan ayam itu.

Kemudian gurunya berkata  kepadanya , “ mengapa engkau tidak menyembelih ayammu seperti yang dilakukan oleh teman-temanmu ? anak itu menjawab ,”karena saya tidak bisa menyendiri di suat tempat tanpa terlihat oleh seorang pun, sesungguhnya Allah melihatku di setiap tempat.

 Kemudian guru itu berkata kepada murid-murid, “lihatlah kepada murid ini, ia takut kepada Allah dan tidak melupakan-Nya di tempat di mana pun. Itulah sebabnya saya lebih menyayanginya dari pada kalian. Tidaklah di ragukan , bahwa jika sudah besar, ia akan menjadi orang yang shaleh dan taat kepada pengaturnya di setiap waktu.

keterangan :
kisah di atas adalah mitivasi bagaimana menanamkan sifat jujur dan merasa di awasi oleh Allah disetiap tempat /ruang dan waktu.